BERAU – Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPKBP3) Berau terus menekan terjadinya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak. Upaya yang dilakukan yakni mencegah terjadinya pernikahan dini.
Kepala DPPKBP3A Berau, Rabiatul Islamiah menuturkan, kebanyakan kasus kekerasan terjadi karena pernikahan dini. Sebab, pasangan belum terlalu siap secara mental.
“Tentu ini jadi perhatian serius bagi kami. Pernikahan dini juga bisa dicegah dengan pembinaan rutin dengan ada komunikasi bersama orangtua,” ungkapnya, Sabtu (29/12/24).
Ia menyebut, DPPKBP3A Berau menyediakan layanan bimbingan pernikahan kepada generasi muda untuk memberi pemahaman terkait hal-hal penting yang harus diperhatikan dalam rumah tangga.
“Kami di DPPKBP3A, itu kan ada tim pendampingan keluarga, jadi dari tim tersebut dari calon pengantin hingga hamil sampai 1.000 hari kelahiran, itu kita melakukan pendampingan,” ujarnya.
Dirinya juga menyampaikan, peran pihaknya terkait pengawalan untuk pemberian edukasi terhadap pernikahan, seperti memberikan pemahaman terkait pernikahan muda ataupun hal lainnya.
“Saya sangat tidak menganjurkan kepada generasi yang usianya masih 20 tahun ke bawah, untuk memutuskan menikah,” bebernya.
Sebab menurutnya tidak hanya organ reproduksi yang masih lemah, namun mental pada usia tersebut masih belum stabil untuk menjalani bahtra rumah tangga. Sehingga hal tersebutlah yang menjadikan terjadinya perceraian.
“Kami mengedukasi kepada kaum muda melalu badan-badan yang dibentuk di DPPKBP3A untuk memberikan pemahaman bawah menikah muda kurang baik, karena itu harus ada persiapan secara mental dan kesiapan reproduksi yang matang, walaupun secara ekonomi sudah baik, namun belum tentu mereka siap menjalani,” imbuhnya.
Meski begitu, dirinya juga berpesan, agar kaum muda harus mempertimbangkan lagi keputusan mejalani fase pernikahan jika umur masih terbilang muda. “Karena perlunya pemahaman yang lebih banyak, agar mereka siap untuk membangun keluarga yang lebih berkualitas di masa yang akan datang. Paling tidak tingkatkan kualitas, agar kita khususnya kaum perempuan benar-benar siap berkeluarga kelak minimal mempunyai bekal lain yang bisa menambah pemahaman,” pungkasnya. (wan)





